Ibunda (8) – ibuku enterpreneur yang ulet

Dikarang oleh Marca Sri Mawar dipanggil Mawar adikku putri no 8.

Di ulang tahun ibunda ke 90, izinkan Mawar putri no 8 untuk sharing menceriterakan masa manis, masa indah, masa pengembangan diri sewaktu Mawar masih tinggal bersama ibu di Pati.

ImageYang ditekuni ibu agak lama adalah pembuatan es mambo. Es mambo itu produk olahan beku yang menjadi kegemaran orang di Pati sejak dulu. Pasarnya ada, saingannya es lilin dari toko Canada. Banyak orang Pati bilang kalau es mambo buatan bu Giek lebih enak, lebih lembut dari es lilin buatan toko Canada. Rasa es mambo bu Giek cukup beragam dari mulai rasa buah-buahan memakai essence, kacang2an, coklat, vanilla, ketan hitam. Resep es mambo sangatlah mudah. Setiap sore ibu membuat adonan di 2 buah panci besar. Terdiri dari air yang sudah mendidih, gula dan biang gula dan rasa atau essence. Yang mengkonsumsi es mambo di Pati bukan hanya anak2, remaja, dewasa sampai kakek nenek pun ikut menikmati es. Es mambo yang dibuat ibu Sugijono terkenal di kota Pati, karena kebersihannya, karena air yang dipakai membuat es mambo pasti air matang bukan air mentah dan rasanya sangat bervariasi. Agar tekstur es mambo halus dan lembut, ibu selalu menjaga agar air jangan terlalu banyak. Penggunaan susu full cream sebagai bahan dasar dapat membuat es mambo buatan bu Giek lebih creamy dan lembut. Bahan lain yang penting untuk memainkan peranan kelembutan es mambo adalah stabilizer atau pemantap nabati seperti gelatin, guar gum, karagenan. Bahan tambahan lain pengemulsi nabati seperti lesitin, gmc gliseril mono stearate. Bahan2 itu semua mudah diperoleh ditoko kue atau toko kimia. Yang ibu jaga adalah stabilizer dan emulsifier tidak boleh lebih dari 2% dari total berat adonan. Proses pembekuan juga amat berpengaruh terhadaap kelembutan. Es mambo buatan bu Giek top markotop, bersih dan enak. Es mambo bu Giek tidak menggunakan pengawet. Tidak dicampur natrium benzoate atau potassium sorbet. Pemasukan uang lumayan. Setiap sore sebelum tidur saya dan mbak Nunuk serta adik Andre, dik Kris dan Titik dan Ciput rame2 duduk dimeja makan membungkusi es mambo, sambil bercanda ria. Yang paling lucu dik Ciput no 12 si ragil, kalau lagi mendongeng menceriterakan apa yang terjadi di sekolah. Lucu sekali. Walau paling ragil tetapi sudah pinter mendongeng. Masa indah yang sangat mengesankan dan semakin mempererat hubungan emosi dan spiritual diantara kami 6 bersaudara dari total 12 bersaudara.

Ibu pernah menebas tebu di sawah dan menjualnya ke pabrik gula Trangkil berkongsi dengan sahabat ibu bernama bu Darsono dari PJKA. Keuntungannya lumayan dan dibagi dua dengan bu Darsono. Ibu juga pernah membeli dan menjual garam yang banyak dihasilkan disepanjang pantai dari Djuwana sampai Rembang. Untuk menuju ke lokasi gudang garam di daerah Rembang, ibu dan bu Darsono rela naik truk pengangkut barang, bergelantungan dibelakang, sampai sopirnya merasa kasihan dan menyuruh ibu pindah duduk didekat sopir truk. Spirit dan perjuangan nya luar biasa. Berdagang garam pun menguntungkan.

Ibu juga berjualan emas perhiasan yang satu set dengan batu berharga, seperti blue safir, giok, kecubung, merah siam, merah delima, kelulut dan alexandry. Penggemar perhiasan satu set dengan batu berharga di Pati banyak yaitu teman2 ibu dari pemerintah daerah atau ibu2 Muspida. Barang dagangan dibuat di Martapura dan diambil dari seorang pedagang emas di Jakarta atau Semarang yang baik hati kepada ibu dan sangat percaya kepada kejujuran ibu. Barang boleh diambil, setelah sebulan yang laku dibayar dan yang tidak laku dikembalikan dan diganti dengan model lain. Ibu memilih perhiasan anting2 dan leontin yang ada inthil2nya. Oleh ibu inthil2 itu dilepas dan dikumpulin. Setelah banyak lalu dilebur dan dibuat barang lain seperti cincin dan dijual. Dan laku. Ada keuntungan lagi. Pinter deh ibu saya ini, sambil senyum ceria ibu cerita ke kami bagaimana inthil itu dilepas, dikumpulkan, dilebur dan dirubah manjadi barang hiasan emas yang laku dijual.

Setiap 3 bulan sekali, ibu pergi ke Jakarta untuk kulakan barang dagangan. Saya selalu mengawal ibu kalau kulakan barang dagangan. Kami berdua naik bis Mayasari bakti jurusan Manggarai – Blok M. Di Blok M ibu belanja bermacam-macam. Ibu membeli BH dan CD yang bagus dan murah diblok M. Kata ibu model seperti itu tidak dijual di Pati, ini tahun 1970-an lho. Mas Yanto, mas Yono sudah bekerja di Jakarta dan ibu menginap di salah satu rumah kakakku ini. Ibu juga membeli kain batik, rok2 yang model baru, blus yang model baru, ibu sangat tahu selera orang Pati. Dan feeling ibu hampir betul, apa yang dibeli di blok M sudah ada pasarnya di Pati. Sudah ada yang pesan. Pokoknya dagangan ibu laris sekali.

Ibu mempunya catatan keuangan yang sangat rapi, sangat rinci dan tersimpan dilemari dengan aman. Ibu sering mengajak saya untuk mengupdate catatan ibu itu. Sambil senyum dan mengelus-elus kepala saya karena sayangnya. Itu lah momen yang saya rindukan. Betapa sayang ibu kepada saya, kepada semua putra putrinya yang berjumlah 12 orang anak. Tidak pernah terdengar keluhan. Tidak pernah terdengar ngresulo atau komplen. Semua dijalani dengan sabar, dengan ikhlas dan mensyukuri rejeki yang diperoleh secara halal. Semua rejeki dipakai untuk membayar biaya makan, minum, pakaian dan sekolah anak2nya yang berjumlah 12. Ibu sadar bahwa penghasilan bapak sebagai seorang guru SMP sangat tidak mencukupi.

Ibu juga pernah menyewa sawah lalu dengan piawainya dicarinya buruh tani untuk menggarap sawah yang disewa itu. Ibu menanam padi dan memeliharanya sampai panen. Pada hari panen padi, ibu datang sendiri memberikan komando di sawah. Setelah padi semua terkumpul lalu ibu menyewa gerobak sapi besar beroda besar untuk mengangkut hasil padi ke dese Dengkek ke Lurah Marsie yang mempunyai huuler atau pabrik beras. Anak2 mengawal gerobak berisi padi dari sawah ke desa Dengkek. Beras yang diperoleh sebagian kecil untuk konsumsi sendiri dan sebagian besar dijual, modal kembali masih ada keuntungan.

Ibu tidak pernah sekolah ekonomi, ibu tidak pernah kuliah perdagangan tetapi ibu mempunyai instink yang luar biasa untuk mencari nafkah, untuk berdagang apa saja memanfaatkan jejaring ibu di pati, memanfaatkan image ibu sebagai orang jujur yang sangat dipercaya.

Marca Sri Mawar Sumariyaningrum putri no 8 dari keluarga Sugijono.

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in keluarga and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s