Anak Guru (12) – pendidikan kemandirian dalam bisnis oleh orang tua

Usia ayah saya ketika itu  50 tahun. Mempunyai anak 12 orang. Yang no 12 baru 3 bulan, yang no 1 19 tahun, belum ada yang mentas, belum ada yang kerja. Anak no 2 baru masuk Teknik Kimia Gadjah Mada, perlu biaya bulanan ketika itu rata-rata sebesar Rp 1.500 per bulan. Tetapi dari mana uangnya? Pensiun bapak jumlahnya kecil.

Ibu bapak bingung sekali. Putra no 3 baru masuk SMA N Pati kelas 1. Dan setiap hari dik Jadik melihat keadaan itu.

hal 58adikku kel soegijono 12 saudaraBayangkan ada 10 anak yang masih kecil kecil harus diberi makan minum. Bayangkan Ciput, putra ke 12, umur 3 bulan, butuh susu tetapi tidak ada uang. No 11 Titik dan no 10 Kris masih kecil butuh susu juga tidak ada uang. Dik Jadik putra ke 3, ketika itu umur 15 tahun, laki-laki paling besar dirumah.

Bapak Ibu panik.

Apakah bapak dan ibu mampu dan sanggup memberi makan 10 anak, dari bayi sampai abg? Dik Jadik yang paling tua, yang paling besar di rumah Pati melihat dengan mata kepala sendiri, betapa bapak dan ibu panik. Panik mencari biaya makan untuk 10 anak. Panik mencari uang pondokan untuk putra ke 2 Yono sebesar Rp 1.500 setiap bulan. Benar benar kondisi yang sangat kritis.

Harus ada sesuatu tindakan yang drastik. Harus ada trobosan yang berani, yang masuk akal dan bisa menghasilkan uang. Tetapi bagaimana? Sahabat sekolah dik Jadik di SMA N Pati adalah sahabat di SMP N Pati, mereka sahabat yang akrab, yang dekat dan yang ada keinginan untuk menolong, tetapi apa daya kemampuan belum ada. Akhirnya dik jadik memberanikan diri meminjam uang ke Heru, anaknya Lurah Marsi dari Dengkek yang dipandang paling kaya. Dengan uang pinjaman yang tidak seberapa dik jadik pergi ke Yogya, berniat dagang naphtol, mau kulakan naphtol dari Yogya. Naphtol obat pewarna yang dipakai untuk mewarnai batik batik di Yogya. Tempat yang menjual naphtol di Yogya ada dibelakang Pasar Beringhardjo, namanya daerah Ketandan. Disitu memang pusat penjualan obat warna warni untuk pabrik pabrik batik di Yogyakarta.

Yang pertama kali ketika bertemu dengan babah China di Ketandan adalah dik jadi belajar dari dia bagaimana cara mewarnai dengan naphtol, bahan pewarna untuk batik. Cat warna naphtol penggunaannya ternyata mudah, cepat dan praktis. Keuntungan nya adalah daya tahan warna cukup baik terhadap sinar matahari. Yang paling murah adalah warna hitam yang diimport dari RRC. Warna lain mahal karena buatan Bayer atau diimport dari Eropa.

pewarna-batikMewarnai kain membutuhkan 2 item, yaitu naphtol dan garam yang disebut diazonium sebagai pembangkit warna. Gunanya garam diazonium adalah untuk menyempurnakan larutnya warna naphtol kedalam kain, yang mau diwarnai dengan memakai air panas. Agar stabil dan tidak mudah luntur. Setelah menyiapkan air mendidih larutkan bahan cat warna naphtol, cukup 2 gram untuk satu atau dua baju. Airnya kira-kira 2 – 3 liter. Lalu masukkan garam diazonium kedalam air yang mendidih. Perbandingan naphtol dan garam 1 : 3. Mengingat bubuk naphtol mahal.

Proses mewarnai baju ini sama dengan proses mewarnai didalam pembatikan. Bahan kain atau baju atau celana yang mau diwarnai dibasahkan dulu, lalu dicelup ke air yang sudah ada bubuk warnanya kira-kira 3 – 5 menit, merata dan air masih dalam keadaan panas. Lalu diangkat dan dicelupkan ember yang ada larutan yang berisi garam diazonium yang juga panas. Kalau air dalam keadaan panas maka warna bisa masuk ke pori-pori kain, sehingga hasilnya bagus. Warna dijamin tidak luntur dan warna bisa bertahan dan tidak mudah berkurang walau kena pengaruh ultra violet dari matahari.

Untuk memasarkan naphtol dan garam diazodium ada ceriteranya tersendiri. Dik Jadik sengaja membolos sekolah dan mendatangi warung warung kelontong di Pati dan sekitarnya, mulai Trangkil, Kayen, Tayu dan Djuwana. Banyak warung yang saya datangi. Banyak warung yang diajarin bagaimana mewarnai kain baju atau celana dengan naphtol dan garam diazonium. Ini barang baru. Belum ada pewarna kain yang dijual di Pati dan sekitarnya. Dan dik Jadik memberikan gratis naphtol warna hitam dan garam diazonium untuk mereka pakai. Dimulai dari 50 bungkus, kulakan pertama, separohnya diberikan gratis kepada pemilik warung, yang separoh mereka jual. Dan laku. Alhamdullilah.

Hari Sabtu pagi dik jadik ke Yogya kulakan naphtol di Ketandan Yogya, pulangnya hari Minggu. Tidurnya dirumah bude Setro di Purwokinanti. Dan kembali melakukan penetrasi pasar dengan cara yang sama. Datangi warung kelontong, melakukan demonstrasi gratis, dan separoh ditinggal untuk dijual. Warna hitam murah sekali. Kalau warna lain sangat mahal. Warna hitam banyak diminati oleh pemuda kampung atau pemuda aktivis dari Marhaen atau komunis. Kalau mereka kumpul mereka memakai seragam hitam. Naphtol pak Giek dicari dan dibeli oleh kelompok ini. Kadang didatanginya kelompok Marhaen dan komunis, untuk ngajarin bagaimana memakai naphtol. Dan membolos sekolah lebih sering, karena melihat kegiatan jualan naphtol bisa menghasilkan uang.

Rupanya bapak dan ibu memperhatikan apa yang putra no 3 lakukan. Bapak ibu sangat prihatin. Bapak ibu tidak sampai hati anaknya membolos sekolah dan mulai mencari uang dengan dagang kecil-kecilan naphtol. Pada suatu malam putra ke 3 dipanggil bapak dan diajak berbicara. Bahwa mulai hari itu pekerjaan berjualan naphtol akan dilakukan oleh bapak. Bahwa bapak akan meminjam uang dari Toko Lares uang sejumlah Rp 30.000 untuk dipakai kulakan di Yogya. Bahwa bapak akan berangkat ke Yogya naik kereta api dan selama di Yogya akan tinggal di rumah Bude Setro. Bahwa putra ke 2 akan mengantar bapak belanja ke Ketandan di Beringhardjo. Bahwa untuk membeli 2 drum diazonium dan 1 drum warna hitam, akan dibayar cash. Untuk angkutan ke Pati akan dibantu putra ke 2 yang sekolah di Gadjah Mada.

Setiap hari bapak memecah garam diazodium yang harus dikeluarkan dari drum. Garam ini sangat berbahaya karena mengandung natrium dan phosphor, racun bagi tubuh manusia. Kalau kena kulit gatal sekali. Kalau kena mata wah .. bahaya. Maka bapak membungkus diri dengan kain berlapis-lapis, memakai kacamata, memakai topi dan pekerjaan memecah garam diazonium dilakukan dikolam ikan yang sudah dikeringkan agar pecahannya tidak menyebar ketempat lain. Bapak melakukan dengan penuh semangat. Bapak sadar bahwa tanggung jawab untuk memberi makan 12 anaknya adalah tanggung jawab beliau.

Bapak menegaskan bahwa anaknya harus tetap sekolah. Bahwa semua harus lulus SMA N Pati. Bahwa bapak menghendaki kalau bisa semua meneruskan ke Perguruan Tinggi.

Setelah lulus SMA N Pati dik jadik mendaftar ke Akademi Angkatan Udara. Tetapi tidak diterima karena ada masalah dengan mata. Kemudian pergi ke Jakarta, menginap di rumah Bapak Amin Singgih di Jalan Musi. Putra ke 3 mendaftar ke Trisakti Fakultas Teknik Sipil. Diterima. Tetapi untuk uang pangkal tidak punya uang sebanyak Rp 25.000. Akhirnya tidak jadi kuliah di Trisakti.

Lalu mendengar bahwa AIP menerima pendaftaran untuk mahasiswa baru. putra ke 3 diantar oleh Bapak Amin Singgih menemui Menteri Maritim yaitu Bapak Jatidjan yang tinggal di Jalan Panglima Polem. dia juga dibantu mas Tetet Sadjimin dokter dari Pati. Singkat cerita dik Jadik putra ke 3 diterima di AIP Ancol.

Untuk mengatasi biaya dia mencari beasiswa dan dapat beasiswa dari PT Bahtera Adiguna. Jadinya selama 3 tahun kuliah tidak usah mengeluarkan ongkos alias gratis.

Setelah lulus AIP dik Jadik langsung bekerja di kapal milik Bahtera Adiguna yang bernama MV Adiguna Meranti. Komoditi yang diangkut kayu meranti dari kalimantan ke Jepang. dia berlayar ke Asia, termasuk Singapore, Hongkong, Thailand, Malaysia dan Jepang. Setelah kewajiban selesai, pindah kapal. Bisa berlayar ke Australia dan Eropa dengan ganti kapal dan ganti pemilik kapal.

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in keluarga, manajemen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s